<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6603010</id><updated>2011-07-12T15:10:03.499+07:00</updated><title type='text'>Menjangkau matahari</title><subtitle type='html'>Ini tempat main yang lain lagi.
Ceritanya, lagi pengen belajar nulis cerita nih *heheh*. 
Ketika baru dibayangkan, rasanya nggak sulit, tapi setelah betul-betul dimulai, ternyata tidak mudah juga. Kadang seperti menjangkau matahari, berat, dan hampir mustahil. 
Tapi melakukan sesuatu yang kita cintai, mestinya yang berat akan terasa jauh lebih ringan...
Mudah-mudahan..
</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>urfie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15483279584038263094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://img.photobucket.com/albums/v46/urfie/gambar.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6603010.post-111511802114068814</id><published>2005-05-03T17:52:00.000+07:00</published><updated>2005-05-03T18:00:21.140+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Kehilangan.&lt;br /&gt;Rasa apa lagi yang lebih buruk dari itu?&lt;br /&gt;Seperti sesuatu terenggutkan dari dalam rongga dada. Sakit. Hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini belum pernah aku merasakan sesuatu sepahit ini. Selama ini hidupku selalu terlindung. Selalu ada tangan-tangan yang siap menangkapku ketika aku jatuh, selalu ada kasih sayang yang menaungiku setiap kali aku sendiri. Sesuatu yang hilang selalu tergantikan. Sesuatu yang hancur selalu terbarukan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6603010-111511802114068814?l=menjangkaumatahari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/feeds/111511802114068814/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6603010&amp;postID=111511802114068814' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/111511802114068814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/111511802114068814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/2005/05/kehilangan.html' title=''/><author><name>urfie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15483279584038263094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://img.photobucket.com/albums/v46/urfie/gambar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6603010.post-110303399124011158</id><published>2004-12-14T21:03:00.000+07:00</published><updated>2004-12-14T21:21:27.026+07:00</updated><title type='text'>Rembulan di hati Ifa (2)</title><content type='html'>"Kakak pulang!.. kakak pulang!!"&lt;br /&gt;Sepasang kaki kecil tak beralas kaki berlari tertatih menyongsong Ifa. Tanpa terasa, ia sudah sampai di gang depan rumahnya. Si kecil Husna menyambutnya, dan bergayut manja di lengan Ifa.&lt;br /&gt;Sejenak berat tubuh si kecil terasa seperti menarik dirinya ke dasar bumi, membawanya ke saat ini dan mengingatkannya pada setumpuk tugas yang menanti di dalam rumah nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir saja Ifa menghardik, tapi wajah kecil bersaput debu itu menatapnya sambil tersenyum. Hatinya luluh. Biar bagaimanapun, Husna selalu jadi bunga di hatinya. Walau sesekali, ketika ia benar-benar lelah dan ingin sendiri, ia marah dan mengelakkan pelukan si kecil, tapi saat ini, ketika hati Ifa terasa sunyi dan berat, pelukan itu seperti sebuah kekuatan. Ifa tahu ia membutuhkan Husna, lebih dari kapanpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Main apa sayang?" tanyanya lembut sambil mengangkat tubuh si kecil. Kaki Husna menapakkan debu di atas rok merahnya, tapi Ifa tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6603010-110303399124011158?l=menjangkaumatahari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/feeds/110303399124011158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6603010&amp;postID=110303399124011158' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/110303399124011158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/110303399124011158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/2004/12/rembulan-di-hati-ifa-2.html' title='Rembulan di hati Ifa (2)'/><author><name>urfie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15483279584038263094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://img.photobucket.com/albums/v46/urfie/gambar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6603010.post-110301233711994822</id><published>2004-12-14T15:05:00.000+07:00</published><updated>2005-02-18T15:12:44.566+07:00</updated><title type='text'>Rembulan di hati Ifa</title><content type='html'>"Uh!" Ifa tersedak asap. Sebuah mobil melintas dengan kencang dan meninggalkan awan debu di belakangnya.&lt;br /&gt;Matahari begitu terik, bahkan angin yang bertiup pun terasa panas di wajah Ifa.&lt;br /&gt;Biasanya, hari-hari seperti ini ia akan memacu langkah, mencoba menggulung jarak yang memisahkannya dari rumah. Bayangan segelas air dan naungan atap membuatnya tak sabar ingin segera sampai. Tapi siang ini Ifa justru melangkah perlahan, sesekali mendesah, sambil membayangkan seandainya saja perjalanan pulang ini tidak usah pernah berakhir. Jika saja waktu bisa berhenti saat ini dan di sini, supaya Ifa tak perlu sampai di rumah dan berhadapan lagi dengan beban yang memberati hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi tadi Ibu ngomel lagi. Sebabnya cuma karena Ifa lupa menyediakan kopi untuk ayah. Padahal mestinya Ibu kan faham, pekerjaan Ifa banyak. Memandikan Husna, adiknya yang belum dua tahun, menyiapkan seragam untuk dirinya dan Shofa, adiknya yang lain, menyapu, menyiram tanaman, belum lagi mencuci piring dan membantu ibu menyiapkan sarapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, kenapa sih ayah begitu diutamakan? Toh Ayah nggak akan kemana-mana. Justru Ifa yang harus bersiap ke sekolah. Pertanyaan yang cuma bisa ia ungkapkan di dalam hati saja.&lt;br /&gt;Di depan ibunya, Ifa tak akan berani bertanya seperti itu. Ibu bisa marah besar, atau lebih parah lagi, Ibu bisa menangis dan mendiamkannya berhari-hari.&lt;br /&gt;Dulu.. dan itupun cuma sekali, Ibu pernah mengajaknya bicara soal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu menjelang kepulangan Ayah dari rumah sakit, Ibu mengajak Ifa bicara berdua. Kata Ibu, Ifa harus lebih dewasa, lebih sayang kepada adik-adik, dan bersabar menghadapi Ayah. Ayah sedang sakit, dan mungkin tidak akan sembuh untuk waktu yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ifa masih ingat benar, tepat sebulan sebelum ulang tahunnya yang ke 10, mereka duduk di beranda rumah. Berdua mereka memandang rembulan yang sedang purnama. Kata Ayah, sejak Ifa lahir ke dunia, Ayah seperti punya rembulan di dalam hatinya. Ayah selalu bilang begitu setiap mereka melihat rembulan yang sedang bulat sempurna, tapi Ifa tidak pernah bosan. Ifa suka berlama-lama memandang ke langit, menatap rembulan dan menyimpannya di dalam hati.&lt;br /&gt;Saat itu Ayah berjanji, kalau nilai rapor Ifa bagus, di ulang tahunnya nanti Ayah akan memberikan hadiah yang selama ini Ifa inginkan : sebuah sepeda mini. Dan mereka sekeluarga akan berlibur ke puncak. Tapi ternyata bukan sepeda dan liburan yang Ifa dapatkan, tapi kabar sedih. Ayah sakit, dan harus dirawat di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian semuanya jadi berbeda. Kehidupan mereka tidak lagi seperti dulu. Ifa tahu, tidak akan ada lagi sepeda untuknya, liburan ke puncak, bahkan akhirnya Ifa harus pindah sekolah karena mereka pindah rumah. Ayah juga berbeda. Tidak ada lagi Ayah yang tegas tapi penyayang, Ayah yang lucu, Ayah yang selalu jadi panutan untuk Ifa. Tidak ada lagi malam-malam di beranda rumah, menatap rembulan dan bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung..)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6603010-110301233711994822?l=menjangkaumatahari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/feeds/110301233711994822/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6603010&amp;postID=110301233711994822' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/110301233711994822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/110301233711994822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/2004/12/rembulan-di-hati-ifa.html' title='Rembulan di hati Ifa'/><author><name>urfie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15483279584038263094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://img.photobucket.com/albums/v46/urfie/gambar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6603010.post-108849600680788071</id><published>2004-06-29T14:13:00.000+07:00</published><updated>2004-06-29T15:20:30.233+07:00</updated><title type='text'>Teman baru Farah (2)</title><content type='html'>&lt;a href="http://menjangkaumatahari.blogspot.com/2004/04/teman-baru-farah.html"&gt;Tulisan sebelumnya disini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari toilet sekolah, Farah merasa sedikit lega. Ia ingat kata Ibu, "Menangis sedikit boleh, supaya perasaan kita jadi ringan." Ah, teringat Ibu membuat Farah ingin segera pulang. Ibu pasti tahu apa yang harus dilakukan kalau Farah merasa tidak enak begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Farah!" sebuah suara mengejutkannya. Ternyata itu Uti dan Nurma, teman sekelas. &lt;br /&gt;"Tunggu dong, kami mau tanya sesuatu nih!" kata Uti sambil berlari-lari melintasi halaman sekolah, Nurma di belakangnya. Mereka berdua memang sahabat karib sejak kelas satu dulu. Rumah mereka juga berdekatan, dan kemana-mana mereka selalu terlihat berdua, persis seperti Farah dan Syifa. Uh, teringat Syifa Farah jadi ingin menangis lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini Farah," kata Uti setelah mendekat. "Kami punya tebak-tebakan."&lt;br /&gt;Nurma tertawa-tawa di belakang Uti "Iya, dan kami yakin kamu nggak akan bisa menjawab yang satu ini."&lt;br /&gt;Uti dan Nurma memang paling suka main tebak-tebakan, tapi mereka suka penasaran kalau tebakan mereka terjawab dengan mudah. Farah tersenyum, "Belum tentu. Aku kan raja menebak." kata Farah menggoda mereka. Uti memeletkan lidah, dan Nurma tertawa lagi. Nurma memang anak yang suka tertawa, dan tawanya itu membuat teman yang melihat ingin ikut tertawa juga. "Dengar ya, tebakannya begini.." kata Uti "Sapi apa yang warnanya ungu?"&lt;br /&gt;Farah berpikir sebentar "Mmm... sapi apa yaa..? Sapi dicat ungu?"&lt;br /&gt;"Tuh kan, Farah nggak tau." kata Nurma, masih tertawa. "Jawabannya sapidol ungu! Hihihi.."&lt;br /&gt;Uti juga tertawa, dan mereka berdua menepukkan sebelah tangan mereka tanda kemenangan.&lt;br /&gt;"Kita ada tebakan lain nih, coba ya.." kata Uti lagi.&lt;br /&gt;Biasanya, berdua dengan Syifa, Farah akan berusaha sungguh-sungguh menebak teka-teki yang diberikan Uti dan Nurma. Tapi kali ini ia tidak begitu bersemangat. Hatinya masih sedikit kecewa kepada Syifa, bahkan melihat Uti dan Nurma tertawa bersama-sama begitu, membuat Farah makin sedih saja. Tapi karena teka-teki Uti dan cara tertawa Nurma memang lucu, akhirnya Farah ikut tertawa-tawa juga.&lt;br /&gt;Nurma dan Uti masih memberikan beberapa tebakan lain, sampai tak terasa, bel tanda masuk kelas pun berbunyi. Mereka bertiga bergegas kembali ke kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka masih tertawa ketika masuk ke kelas. Di bangkunya, Farah melihat Syifa dan Asti masih bercakap-cakap berdua. Kegembiraan yang dirasakan Farah segera menguap. Apalagi ketika Syifa memandang ke arahnya, dan terlihat kurang senang. "Kok kamu lama sekali sih?" kata Syifa setelah Farah sampai di bangkunya. Ia diam saja. "Asti tadi kan mau lihat koleksi kita. Waktu istirahat jadi habis deh."&lt;br /&gt;Farah mengangkat bahu, "Aku kan ke kamar mandi. Masa nggak boleh sih?" katanya tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang pelajaran itu Syifa jadi cemberut. Farah tidak berusaha membujuk atau minta maaf. Biar saja, lagipula Syifa kan lebih suka Asti, pikirnya kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang sekolah, Syifa sudah lupa marahnya. Ia memang begitu, tidak suka menyimpan kemarahan lama-lama. Itu salah satu sifat baik Syifa yang membuat Farah suka sekali bermain dengannya. Tapi Farah sendiri belum bisa membuang perasaan sakit di hatinya, sebab ketika bel pulang berbunyi, Syifa langsung bilang "Yuk kita ajak Asti pulang bareng, nanti kita tunjukkan jalan ke rumah kita supaya Asti bisa main sama-sama sepulang sekolah nanti."&lt;br /&gt;Karena kesal, Farah tadi sampai hampir lupa kalau usul mengajak pulang bersama itu awalnya ide Farah sendiri. Ia mengangguk, walaupun wajahnya tidak tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Syifa dan Asti tidak merasa perubahan sikap Farah. Mereka tetap saja asik bercanda dan bercakap-cakap, sementara Farah makin lama makin merasa tersisih. Perjalanan pulang yang biasanya menyenangkan sekarang jadi terasa lama dan membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah, Farah merasa sangat lelah. Ia ingin segera bertemu Ibu. Entah kenapa setiap kali hatinya sedih, ia selalu ingin dipeluk-peluk oleh Ibu, seperti dulu ketika Farah masih kecil. Kakak sampai suka mengejek "Pengen jadi anak kecil lagi tuh!" Uh, kalau sudah begitu, Farah paling cuma memeletkan lidah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu, Assalamu'alaikum!" teriak Farah begitu masuk ke dalam rumah.&lt;br /&gt;"Wa'alaikumussalam." terdengar suara dari ruang belajar, ternyata Ibu sedang menulis di sana.&lt;br /&gt;Ketika Farah sampai di depan pintu, Ibu menoleh dan tersenyum "Masa teriak-teriak begitu sih?"&lt;br /&gt;Farah menghampiri Ibu dan berdiri di belakangnya, memeluk leher Ibu dari belakang. Hmm.. rambut ibu wangi sekali. Ibu membelai kepala Farah, "Ganti baju dulu, nanti ibu temani makan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(masih belum selesai)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6603010-108849600680788071?l=menjangkaumatahari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/feeds/108849600680788071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6603010&amp;postID=108849600680788071' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/108849600680788071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/108849600680788071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/2004/06/teman-baru-farah-2.html' title='Teman baru Farah (2)'/><author><name>urfie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15483279584038263094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://img.photobucket.com/albums/v46/urfie/gambar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6603010.post-108563757575230031</id><published>2004-05-27T12:58:00.000+07:00</published><updated>2004-05-27T12:59:35.753+07:00</updated><title type='text'>... *belum ada judul* ...</title><content type='html'>"Yaaa.. peermisiii.. bapak-bapak, ibu-ibu dan kakak-kakaaa...k.."&lt;br /&gt;Sebuah suara cempreng menyentakkan kesadaranku. Rasa pening yang sedang berusaha kulupakan kembali lagi berlipat-lipat karena tidur yang gagal.&lt;br /&gt;Ketika kubuka mata, seorang pengamen anak-anak berdiri tepat disampingku dan siap beraksi dengan kecrekan buatan sendiri. &lt;br /&gt;"Sayaa akan mempersembahkan beberapa buah laguu.." &lt;br /&gt;Crik.. crik.. suara tutup botol beradu.. &lt;br /&gt;Aku menahan nafas.&lt;br /&gt;"Buan.. duuunggg... lautan apiii...." suara cempreng itu pun mulai mengalunkan sebuah lagu yang sulit dikenali nadanya. Wah, kalau di bis ini ada pengamat seni, mungkin dia bakal menuntut si pengamen itu karena sudah menghancurkan sebuah karya seni dengan semena-mena. Sementara itu, sesuatu dalam kepalaku mengetuk-ngetuk seirama bunyi kecrekan yang dimainkannya, mula-mula pelan, tapi lambat laun semakin keras tak tertahankan. Kupejamkan mata untuk mengurangi efek negatif gelombang suara cempreng itu, tapi ternyata tak banyak membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akhirnya lagu pertama selesai dan si penyanyi berhenti sejenak untuk mengambil napas, aku buru-buru menggamit tangannya "Dek, maaf ya, nyanyinya agak geser sedikit ya? Saya lagi sakit kepala nih." kataku perlahan. Si pengamen tampak terkejut, mungkin ini pertama kalinya dia diprotes audiens, tapi sejurus kemudian sederet gigi putih tampak, ia nyengir malu dan mengangguk.&lt;br /&gt;Beberapa lagu berikutnya tidak begitu mengganggu karena anak itu tidak hanya bergeser menjauh, tapi juga sedikit mengurangi volume suaranya. Ketukan di kepalaku mulai mereda. Alhamdulillah.. aku mengucap dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yaaa.. demikiaan tadii.. persembahan dari kamii.. Kami mengharaap.. sedikit partisipasi dari bapak-bapak, ibu-ibu dan kakak-kakak sekaliaan..." katanya menutup aksi panggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kemudian dia melewati bangkuku dengan bekas bungkus permen untuk menerima 'sedikit partisipasi' dari para penumpang, ia kembali nyengir malu-malu. &lt;br /&gt;"Makasih ya Dek." kataku sambil memasukkan selembar seribuan, tanda terima kasih karena sudah menenggang perasaanku. " Wah, saya yang minta maap mbak." katanya sambil mengangguk takzim, dan berlalu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua hari ini sebenarnya aku sering sekali sakit kepala, terutama setiap naik bis. Ibu sudah membujuk supaya aku libur saja, tapi dua hari ini ada kuliah penting. Akhirnya aku harus menahan rasa pening itu dan beraktifitas seperti biasa. Sejauh ini sih tidak terlalu masalah. Aku bisa mengikuti kuliah tanpa terganggu, paling-paling perjalanan berangkat dan pulang saja yang jadi cukup berat, apalagi kalau dapat rejeki pengamen bersuara fals seperti tadi. Aku jadi tersenyum sendiri, anak itu tadi lucu juga, dia jelas-jelas malu waktu aku minta dia pindah. Belum lagi gayanya yang sopan waktu minta maaf. Mengingatkanku pada adikku waktu dia kelas enam SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang kuliah, hujan turun dengan deras. Mestinya musim penghujan sudah lama berakhir, dua minggu terakhir ini pun cuaca panas terik, tapi entah kenapa hari ini Jakarta diguyur hujan deras. Aku, dan banyak orang lagi, tidak siap menyambut hujan.. tanpa payung, tanpa jas hujan. Waduh, aku bawa buku pinjaman dari perpustakaan lagi, gerutuku dalam hati. Mendung masih tampak begitu tebal, entah kapan hujan ini akan reda.&lt;br /&gt;"Payung mbak?" seorang anak, pengojek payung, menghampiriku dan menawarkan jasanya. Aku buru-buru menyambut tawarannya.&lt;br /&gt;Anak kecil itu sigap membuka payungnya yang besar dan menyerahkannya ke tanganku. Kami pun berjalan menuju gang masuk kompleks. &lt;br /&gt;Pengojek payung itu berjalan diam-diam di belakangku sambil melompat-lompat menikmati hujan, berhati-hati supaya cipratan airnya tidak mengenaiku. Rasanya aku kenal anak ini, kataku dalam hati, tapi di mana ya.. &lt;br /&gt;Anak itu terus asik melompat-lompat, bajunya segera kuyup dan menempel di badannya yang kurus. Aku berhenti dan menoleh "Sini, ikut payungan, jangan hujan-hujanan begitu." kataku iba.&lt;br /&gt;Dia nyengir dan menggeleng "Enggak usah mbak, udah biasa kok." katanya. Sederet gigi putih itu membuatku ingat, ternyata anak ini pengamen bersuara cempreng yang kutemui di bis seminggu yang lalu.&lt;br /&gt;"Eh, kamu.."&lt;br /&gt;Dia nyengir lagi.. "Embak yang sakit kepala waktu itu ya?" katanya sebelum aku sempat bertanya, "Udah sembuh kan mbak?" Aku jadi ikut nyengir "Udah, Alhamdulillah."&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6603010-108563757575230031?l=menjangkaumatahari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/feeds/108563757575230031/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6603010&amp;postID=108563757575230031' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/108563757575230031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/108563757575230031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/2004/05/belum-ada-judul.html' title='... *belum ada judul* ...'/><author><name>urfie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15483279584038263094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://img.photobucket.com/albums/v46/urfie/gambar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6603010.post-108174427424284334</id><published>2004-04-12T11:22:00.000+07:00</published><updated>2004-04-12T18:18:58.513+07:00</updated><title type='text'>Timeout!! timeout!!</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;b&gt;Waktunya berhenti sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali saya memang belum terlalu siap melakukan perjalanan, tapi hati saya sudah tidak sabar menunggu. Perbekalan belum lengkap, tenaga belum terkumpul, tapi saya sudah berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke mana? Ya.. seperti yang saya tulis di ujung kanan atas &lt;/b&gt;(ralat:sekarang di kiri)&lt;b&gt; itu, perjalanan menjangkau matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, setiap setengah perjalanan, saya terpaksa kembali lagi, mengambil tambahan bekal dan mengulang dari awal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal? Hmm.. apa iya setiap awal cerita selalu jadi awal perjalanan? &lt;br /&gt;Rasanya saya tidak perlu se-pesimis itu ya, barangkali saja setiap cerita yang berhenti di tengah itu tetap langkah maju buat saya (atau langkah naik? kan ke arah matahari :) ). Entahlah, yang jelas saya jadi tahu.. perlu ide untuk memulai sebuah cerita, tapi perlu ketekunan untuk menjalin kisah dan menyelesaikannya sampai ke akhir. Mungkin bekal itu yang harus saya tambahkan ke dalam daftar bawaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm.. rasanya sudah cukup saya beristirahat, waktunya melanjutkan perjalanan kembali. Mudah-mudahan kali ini saya bisa menemukan perbekalan yang masih kurang itu. Doakan saya ya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6603010-108174427424284334?l=menjangkaumatahari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/feeds/108174427424284334/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6603010&amp;postID=108174427424284334' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/108174427424284334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/108174427424284334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/2004/04/timeout-timeout.html' title='Timeout!! timeout!!'/><author><name>urfie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15483279584038263094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://img.photobucket.com/albums/v46/urfie/gambar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6603010.post-108173846907024868</id><published>2004-04-12T09:44:00.000+07:00</published><updated>2004-04-13T14:11:09.780+07:00</updated><title type='text'>Pendekar kesiangan</title><content type='html'>Jam dinding menunjuk pukul setengah lima, waktunya Mamat mengerjakan tugas rutin, yaitu menyiram tanaman. Kalau sampai lupa, bisa-bisa tanaman kesayangan Emak layu semua, dan ia bakal kebagian satu dua teguran keras dari Emak. Mamat asik menyiram tanaman sambil bersenandung, lagunya entah apa. Tiba-tiba dari perempatan jalan muncul segerombolan anak laki-laki seusianya, berjalan tergesa-gesa sambil sesekali melontarkan kata-kata bernada marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, ntu Si Mamat!" kata salah seorang yang kaosnya kegedean. &lt;br /&gt;"Ho oh, ajak aja sekalian!" anak lain, yang kepalanya botak, menimpali.&lt;br /&gt;Marzuki, atau lebih sering dipanggil Juki, anak yang kaosnya kegedean tadi, mendekat ke pagar rumah Mamat.&lt;br /&gt;"Oi, ikutan yuk Mat!"&lt;br /&gt;Mamat meletakkan selang yang dipegangnya dan mendekat juga. "Assalamu'alaikum", katanya.&lt;br /&gt;"'Alaikumussalam. Udah Mat, ayo kita buruan cabut!" kata Juki tak sabar.&lt;br /&gt;Mamat mengangkat alis, cabut? emangnya rumput? &lt;br /&gt;"Bentar.. bentar.. ikutan kemana nih?" tanyanya bingung.&lt;br /&gt;Si botak makin tak sabar "Ki, lu bujuk Mamat dah, aye ama anak-anak jalan dulu, aye kaga mau anak RW 12 ntar ngatain kita penakut. Kalian bedua nyusul buruan ye."&lt;br /&gt;Marzuki mengangguk "Oke bos!"&lt;br /&gt;Rombongan yang dipimpin si botak segera melanjutkan perjalanan dan hilang dari pandangan setelah berbelok di ujung gang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Mamat masih bingung juga, "Ki, ngikut apaan?"&lt;br /&gt;"Ngikut kita-kita lah" jawab Juki.&lt;br /&gt;Mamat geleng-geleng kepala "Lah iya.. tapi kemana? Ngapain?"&lt;br /&gt;"Yeh.. elu emang kurang gaul Mat. Pan kite mo pada ngadepin anak2 RW 12. Kite-kite bakalan butuh banyak tenaga nih.." Juki menjelaskan buru-buru.&lt;br /&gt;"Ngadepin? Ngadepin maen bola? Ayok.. sape takut?" Mamat segera menyambut ajakan Juki. Juki malah mengerutkan kening.&lt;br /&gt;"Bukan ntu Mat, kita bukannya mo ngadu bola, ini masalahnya serius banget. Kita mo berantem! Perang!" katanya berapi-api.&lt;br /&gt;Mamat langsung kaget. Perang? Emangnya Belanda mo ngejajah Indonesia lagi?&lt;br /&gt;"Gini Mat, kemaren si Ucup, temen kita tu, dipalakin ama anak RW 12. Pan namenye nantangin ntu? Nah, sekarang ni kita bakalan ngejawab ntu tantangan.. Mangkenye lo musti ngikut Mat, bantuin kita!" Juki menjelaskan panjang lebar. Satu tangannya memainkan ujung kaosnya yang kegedean, sesekali matanya memandang ke ujung gang tempat si Botak dan teman-temannya berbelok tadi, ia mulai gelisah.&lt;br /&gt;Mamat bimbang, "Wah, pegimana yak... itu kan namanya tawuran Ki. Kata Wak Haji dosa, kaga boleh.." katanya ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah... elu Mat! Ntu namenye elu kaga setia kawan. Elu musti ikutan Mat, masa kaga mau sih ngebantuin sodara-sodara sendiri. Pan kata Wak Haji nolong sodara juga musti, kudu, wajib..."&lt;br /&gt;Mamat jadi tambah ragu. Iya juga sih.. mereka pan sodara-sodara aye, pikir Mamat. Tapi tawuran? Kata Wak Haji, berkelahi itu dosa, tapi menolong sodara kan juga harus... jadi gimana dong?&lt;br /&gt;"Ayo Mat! Mikirnya jangan kelamaan, ntar sodara-sodara kita keburu pada keok!"&lt;br /&gt;Akhirnya dengan berat hati Mamat mengangguk "Bentaran, aye gulung selang dulu."&lt;br /&gt;Sambil menggulung selang, Mamat menguatkan hati, dan berusaha meyakinkan diri bahwa niatnya baik, menolong saudara-saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di TKP (tempat kejadian perkara, alias lapangan tempat tawuran) suasana sudah panas, perkelahian sudah berlangsung. Batu-batu beterbangan, diikuti teriakan bersahut-sahutan dari dua pihak. Awalnya nadanya penuh kemarahan "Serang!" "Timpuk!" "Rasain!"&lt;br /&gt;Tapi kemudian banyak juga teriakan kesakitan. "Wadaoo! Kepala gue!"&lt;br /&gt;"Aww.. kaki.. kaki gue!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mamat tertegun sejenak. Diantara 'lawan' dari RW 12 dilihatnya beberapa wajah yang tidak asing baginya : Agus, Budi, teman sekelas di SD-nya dulu, dan beberapa anak lain yang Mamat lupa namanya tapi ingat benar wajahnya. Aduuhhh.. mereka kan sodara juga, masa ia harus melempar batu ke arah mereka? Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba seseorang mendorong punggungnya dengan kasar "Heh! Elu anak RW 5 ye!" Dan sebelum Mamat sempat menoleh, tiba-tiba... PLTAK!!&lt;br /&gt;Sebongkah batu melayang ke arahnya, dan sahabat kita ini pun roboh ke tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan kelas 2B SMP Suka Pandai, keesokan paginya.&lt;br /&gt;Bel masuk baru berbunyi tapi suasana kelas masih riuh, beberapa anak asik main lempar-lemparan potongan kertas, beberapa yang lain main adu panco, ada juga yang terkantuk-kantuk di pojok kelas sambil meneruskan mimpinya semalam, ada yang main catur jawa, ada yang ramai mengobrol, ada yang sibuk menyalin pe er, ada yang mencuci baju, eh.. enggak ding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua murid kelas 2B sudah datang, eh.. tapi tunggu, ternyata ada satu bangku yang masih kosong, yaitu bangku kedua dari depan, barisan paling kiri. Muhammad Syaifuddin, biasa dipanggil Udin, yang duduk di sebelahnya terlihat gelisah. Sesekali ia melihat jam tangannya dan memandang ke arah pintu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oi, melamun aja!", Irfan yang duduk di belakangnya melempar segulung kertas ke arah Udin.&lt;br /&gt;"Kaga Fan. Kenape ye, tumben amat si Mamat belon dateng. Biasanya pan die paling rajin." kata Udin sambil menoleh.&lt;br /&gt;"Hmm.. bener juga ya." Irfan manggut-manggut "Jangan-jangan bangunnya telat lagi. Soalnya kan Mamat sering gantiin ayahnya tugas ronda."&lt;br /&gt;Udin mengerutkan kening, "Tapi biarpun ngeronda, kaga pernah tuh si Mamat telat. Biasanye pan die justru dateng pagi banget, trus tidur lagi dah di kelas."&lt;br /&gt;Irfah manggut-manggut lagi kayak petugas kelurahan yang sedang mendengarkan wejangan Pak Lurah. Ia juga bertanya-tanya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perhatian, anak-anak!" Pak Husin, guru matematika, sudah berdiri di depan kelas sambil membawa setumpuk kertas. Kelas yang tadinya riuh tiba-tiba sunyi, anak-anak segera menghentikan aktifitasnya dan duduk tenang di meja masing-masing. &lt;br /&gt;"Selamat pagi anak-anak!"&lt;br /&gt;"Pagi Paaak!!" anak-anak serempak menyahut.&lt;br /&gt;"Hari ini Bapak akan berikan test sedikit."&lt;br /&gt;Segera terdengar teriakan kompak 'Yaaa... ' dan gerutuan-gerutuan panik dari murid-murid 'Aduuh.. kan belom belajar Pak!'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung juga... *duh*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6603010-108173846907024868?l=menjangkaumatahari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/feeds/108173846907024868/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6603010&amp;postID=108173846907024868' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/108173846907024868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/108173846907024868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/2004/04/pendekar-kesiangan.html' title='Pendekar kesiangan'/><author><name>urfie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15483279584038263094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://img.photobucket.com/albums/v46/urfie/gambar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6603010.post-108088033385412493</id><published>2004-04-02T11:22:00.000+07:00</published><updated>2004-04-08T11:45:40.060+07:00</updated><title type='text'>Teman Baru Farah</title><content type='html'>Hari ini ada anak baru di kelas Farah, ia baru pindah dari Semarang, namanya Asti. &lt;br /&gt;Karena jumlah murid di kelas 2 sebelumnya sudah 20, Asti terpaksa duduk sendiri. Dia duduk di depan Syifa dan Farah. Asti adalah anak perempuan yang cantik, tubuhnya kecil, rambutnya keriting dan matanya besar. Ia juga pemalu. Setelah memperkenalkan diri di depan kelas dengan suara pelan dan pipi yang memerah karena malu, ia duduk diam-diam di bangkunya. Farah merasa iba dan ingin bercakap-cakap dengannya, serta mengajaknya bermain, tapi keinginannya terpaksa ditunda dulu sampai nanti siang. Sebenarnya satu jam pelajaran lagi istirahat sih, tapi ia dan Syifa kan sudah punya rencana untuk mereka berdua saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fa, nanti kita ajak Asti pulang sekolah bareng yuk! Kan rumahnya searah sama kita."&lt;br /&gt;bisik Farah kepada sahabatnya. Syifa mengangguk "Ide bagus" katanya sambil mengacungkan ibu jari, meniru adegan di film-film. Mereka berdua nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran matematika selesai, dan bel istirahat berbunyi nyaring. Anak-anak berhamburan keluar kelas, dan bergabung dengan sahabat-sahabat mereka. Asti duduk sendiri di kelas sambil membuka bekalnya. Syifa menggamit lengan Farah "Yuk, kita temani Asti."&lt;br /&gt;"Tapi kan kita.. " Farah tidak meneruskan kata-katanya. Rencananya kan jam istirahat ini mereka akan saling menunjukkan koleksi daun kering mereka, hanya berdua saja. Tapi Farah juga merasa iba pada Asti yang sendirian. Pasti tidak enak sekali jadi anak baru dan malu seperti Asti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asti, main sama kami yuk!" kata Syifa.&lt;br /&gt;Farah mengangguk setengah hati "Iya Asti, yuk kita main."&lt;br /&gt;Asti tampak gembira, dan segera menyambut ajakan mereka berdua. "Kalian baik sekali."&lt;br /&gt;Farah agak malu mendengarnya, soalnya kan sebenarnya dia agak segan.&lt;br /&gt;"Kami mau tunjukkan koleksi daun kami. Kamu boleh ikut melihat kalau kamu mau." kata Syifa sambil menggandeng tangan Asti.&lt;br /&gt;Hati Farah terasa sakit. Kok Syifa tega membagi rahasia mereka berdua dengan orang lain tanpa bertanya dulu pada Farah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, Asti, ini koleksiku." Syifa membuka amplop yang dibawanya dan meletakkan isinya satu persatu di meja. Asti kelihatan kagum. "Kakakku juga punya yang seperti ini.", katanya dengan suara kecil.&lt;br /&gt;Farah hampir melotot sebal, tapi untunglah Asti cepat-cepat menambahkan "Tapi nggak sebagus punya kalian kok." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdua, Syifa dan Farah, memang sudah mengerjakan itu semua dengan hati-hati selama beberapa minggu. Mereka ingin mempunyai koleksi daun yang terlengkap sedunia. Memilih dengan hati hati daun yang berbentuk bagus, menyelipkannya di antara kertas koran, dan meletakkan pemberat di atasnya. Tumpukan kertas itu tidak boleh sering-sering dibuka sampai paling tidak satu minggu. Rasanya itu adalah satu minggu yang lamaa.. sekali buat mereka. Syifa dan Farah sudah tidak sabar ingin mengumpulkan koleksi mereka dan menyusunnya dengan rapi. Mereka merasa, ini adalah sebuah koleksi rahasia yang hebat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farah benar-benar tidak rela rahasia mereka berdua dibagi dengan orang lain. Apa dong artinya rahasia kalau orang lain tahu juga, pikirnya. Ia ingin menjauh saja dari mereka berdua. Kalau Syifa memang lebih memilih Asti, ya sudah, pikir Farah.&lt;br /&gt;Farah membuka tasnya dengan enggan. Tiba-tiba dia benci sekali dengan koleksi daunnya. Koleksi itu jadi terasa bodoh dan ia ingin membuangnya jauh-jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Syifa, aku mau ke kamar kecil dulu ya." kata Farah memberi alasan.&lt;br /&gt;Syifa seperti terkejut, tapi cuma sebentar "Iya deh, jangan lama-lama ya, Asti kan belum lihat daun yang Farah buat."&lt;br /&gt;Farah tidak menjawab, tapi segera berbalik dan setengah berlari menuju toilet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di koridor, hampir saja Farah menabrak Pak Imam, wakil kepala sekolah. &lt;br /&gt;"Ehm, ehm!" Pak Imam berdehem.&lt;br /&gt;Farah mengerem langkahnya dan menunduk malu. Ia tahu betul, murid-murid memang dilarang berlari di koridor, sebab koridor kan memang bukan tempat yang aman untuk berlarian. Bisa saja kan mereka anti menabrak Guru yang membawa setumpuk buku, atau terpeleset karena lantai yang licin? &lt;br /&gt;Seperti Farah sekarang ini, hampir saja menjatuhkan tumpukan buku yang dibawa Pak Guru.&lt;br /&gt;"Maaf pak, saya mau ke kamar mandi." katanya merasa bersalah.&lt;br /&gt;Pak Imam pura-pura terkejut, "Wah, kalau begitu bergegaslah. Tapi ingat", katanya sambil mengangkat telunjuk dan memasang muka serius. Farah mengangguk "Jangan berlari." katanya meneruskan ucapan pak Imam. Pak Imam mengangguk juga dan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farah berjalan cepat, tapi kemudian memperlambat langkahnya. Dia kan tidak benar-benar ingin ke belakang tadi. Dia cuma ingin sendirian saja sebentar. Ia tidak bisa memahami perasaannya sendiri. Tadinya kan dia yang mengajak Syifa untuk menemani Asti sepulang sekolah, tapi kenapa sekarang ia justru merasa sakit ketika Syifa mengajak Asti bermain? Farah masih terbayang Asti dan Syifa yang kelihatannya asik sekali tadi, sampai-sampai ia merasa dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syifa menyebalkan sekali, mestinya kan rahasia itu untuk mereka saja. Dan Asti itu.. uu..uh, siapa yang tahu kalau kakaknya benar-benar punya koleksi daun seperti mereka? Kan bisa saja dia cuma mengarang-ngarang supaya Syifa juga kagum, batin Farah. Lalu sebuah pikiran yang menakutkan terlintas di kepala Farah. &lt;br /&gt;Bagaimana kalau nanti Syifa jadi lebih suka kepada Asti, dan melupakan Farah? Farah tidak bisa membayangkan harus duduk sendiri di kelas, sementara Asti dan Syifa asik main berdua. Dadanya terasa menyesak, ia jadi ingin menangis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(.. bersambung ah..)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6603010-108088033385412493?l=menjangkaumatahari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/feeds/108088033385412493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6603010&amp;postID=108088033385412493' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/108088033385412493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/108088033385412493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/2004/04/teman-baru-farah.html' title='Teman Baru Farah'/><author><name>urfie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15483279584038263094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://img.photobucket.com/albums/v46/urfie/gambar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6603010.post-107943761809410846</id><published>2004-03-16T18:45:00.000+07:00</published><updated>2004-04-02T11:39:28.403+07:00</updated><title type='text'>Marah</title><content type='html'>"Pokoknya nggak mau!" &lt;br /&gt;Ifat membanting pintu dan berlari ke luar. Hampir saja ia menabrak Ibu yang membawa setumpuk cucian. "Ifat!" Ibu terkejut, tapi untung tidak sampai menjatuhkan cuciannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terdengar suara Ais, kakaknya, yang mengadu kepada Ibu tentang pertengkaran mereka, sebelum Ifat keluar pagar dan menuju ke rumah Astri. Huh, dasar pengadu! batin Ifat makin jengkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ais selalu saja menjengkelkan kalau sudah menyuruh-nyuruh Ifat melakukan ini dan itu. Hari ini  Ais minta Ifat untuk membantunya merapikan kamar mereka, tapi Ifat sudah janjian dengan Astri. Ais memang rajin, dan Ifat bukannya tidak mau membantu, tapi ia sudah terlanjur berjanji untuk bermain dengan Astri siang ini. Mereka punya sesuatu yang mengasyikkan untuk dilakukan. Astri baru saja mendapatkan buku baru, penuh gambar dan cerita yang bagus, dan mereka berencana untuk membuat poster dari gambar di buku itu, untuk dipasang di kelas. Astri bahkan sudah berjanji untuk menyiapkan kertas dan cat air. Mereka berdua sudah tidak sabar untuk mengerjakannya, dan tidak ada yang mereka bicarakan selama seharian tadi selain ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ais selalu saja tidak mau mengerti bahwa pekerjaan Ifat pun sama pentingnya dengan pekerjaan Ais. Entah kenapa, setiap kali selalu saja Ifat harus mengalah dan mengikuti perintah Ais. Padahal kan sebagai kakak mestinya Ais yang mengalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya, ketika Ifat sudah berbaring di tempat tidur, Ibu masuk ke kamar dan duduk di tepi tempat tidur Ifat. &lt;br /&gt;"Ifat mau cerita, kenapa tadi siang marah seperti itu?" tanya Ibu lembut.&lt;br /&gt;Ifat duduk, dan menundukkan kepalanya. Tadi siang rasanya puas sekali berteriak pada Ais dan membanting pintu seperti itu, tapi sekarang, setelah semuanya berlalu, Ifat justru merasa sudah berbuat salah. Rasanya tidak enak sekali. Bahkan akhirnya Ifat tidak lama bermain di tempat Astri, hatinya tidak tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ais sudah cerita, tapi ibu ingin dengar cerita Ifat juga." kata Ibu lagi.&lt;br /&gt;Ifat memandang wajah Ibu. Ibu tidak kelihatan sedang marah, bahkan tatapannya lembut sekali. Ifat ragu-ragu memulainya "Ais.. mengganggu Ifat." &lt;br /&gt;Ifat cepat-cepat melanjutkan. "Ais menyuruh Ifat membantu membersihkan kamar, tapi Ifat sudah janji mau ke rumah Astri."&lt;br /&gt;Ibu masih diam, menunggunya melanjutkan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ifat sudah bilang, akan bantu tapi nanti. Tapi Ais nggak mau dengar."&lt;br /&gt;Ibu mengusap kepala Ifat "Ifat bilang baik-baik?"&lt;br /&gt;Ia mengangguk, "Ais malah bilang Ifat malas, maunya main terus dan nggak pernah bantu Ibu. Ifat kan nggak begitu, Ifat bantu ibu di dapur, Ifat bantu Ais menyapu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu Ifat marah?" tanya Ibu lagi.&lt;br /&gt;Ifat mengangguk pelan. "Soalnya Ais nggak mau ngerti, janji Ifat kan penting juga. Ifat kan nggak mau dibilang pembohong sama Astri kalau nggak jadi datang."&lt;br /&gt;"Kan bisa dibicarakan baik-baik, tidak perlu marah dan membanting pintu." kata Ibu.&lt;br /&gt;Ifat tertunduk, malu. Rasanya memang menyesal, marah-marah seperti tadi siang.&lt;br /&gt;"Habis Ais terus-terusan bilang Ifat anak malas. Padahal Ifat nggak pernah bilang Ais malas meskipun Ais jarang bantu Ibu di dapur."&lt;br /&gt;Ais memang kurang suka pekerjaan dapur, tapi soal bersih-bersih, Ifat kalah jauh. Meskipun begitu, tetap saja Ifat tidak rela dibilang malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tersenyum "Ibu sudah bicara sama Ais soal ini. Ifat benar, Ifat tidak malas, cuma memang kalau main, Ifat suka lupa waktu kan?"&lt;br /&gt;Ifat diam. Ibu tidak salah, Ifat suka lupa waktu kalau sedang main ke rumah teman, terutama Astri. Kadang sampai Ibu harus menelepon ke rumah Astri, mengingatkannya untuk segera pulang. Habis, waktu berjam-jam kan nggak terasa kalau kita sedang asik.&lt;br /&gt;"Tapi Ifat kan sudah janji Bu." Ifat berusaha membela diri, walaupun dalam hati membenarkan kata-kata Ibu. Ibu sepertinya juga tahu apa yang Ifat rasakan, jadi Ibu cuma tersenyum.&lt;br /&gt;"Ibu tidak meminta Ifat melanggar janji. Janji harus ditepati. Tapi Ifat harus belajar mengatur waktu juga, jangan sampai main setiap hari. Kalian kan harus belajar juga, dan Astri juga pasti harus membantu Ibunya sesekali." kata Ibu.&lt;br /&gt;Ifat terdiam.&lt;br /&gt;"Lalu soal marah. Bagaimana ?" tanya ibu.&lt;br /&gt;Ifat menjawab pelan "Ifat kan nggak suka dibilang malas, Bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Soal itu, Ais memang salah." kata Ibu "Ibu sudah bicarakan dengan Ais, dan Ais sudah berjanji akan minta maaf dan tidak lagi menyebut Ifat malas lagi."&lt;br /&gt;Ibu menghela nafas "Tapi ini bukan pertama kalinya kan, Ifat marah begitu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(.. 2b continued.. )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6603010-107943761809410846?l=menjangkaumatahari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/feeds/107943761809410846/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6603010&amp;postID=107943761809410846' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/107943761809410846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/107943761809410846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/2004/03/marah.html' title='Marah'/><author><name>urfie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15483279584038263094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://img.photobucket.com/albums/v46/urfie/gambar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6603010.post-107897296498757067</id><published>2004-03-11T09:41:00.000+07:00</published><updated>2004-04-12T11:58:38.310+07:00</updated><title type='text'>Kakek sayang</title><content type='html'>Pulang sekolah, rumah terasa sepi sekali. Ibu dan Adil pergi ke tempat nenek sejak seminggu yang lalu karena nenek sakit. Ais dan Ifat tidak bisa ikut karena harus sekolah. &lt;br /&gt;Kakak Ifat, Ais, belum pulang karena kelas 3 belajar sampai jam 12. Ada ayah di rumah, tapi ayah sedang sibuk menulis di ruang belajar. Jika ayah atau ibu sedang sibuk menulis, biasanya ibu meminta Ifat atau Ais mengajak Adil bermain supaya tidak mengganggu. Tapi kali ini Adil tidak ada, dan Ifat sedang tidak ingin bermain ke luar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Ifat menghampiri ayah di ruang belajar "Ayah, sedang apa?" tanya Ifat sambil meletakkan sikunya di tepi meja tempat ayah menulis.&lt;br /&gt;Ayah menoleh "Ayah menulis untuk khutbah Jum'at."&lt;br /&gt;"Ifat temani ya?" tanya Ifat lagi "Ifat kesepian nih."&lt;br /&gt;Ayah tersenyum lebar "Wah, ayah senang sekali! Ayah juga kesepian sedikit. Nah, Ifat ambil kursi dan buku untuk dibaca ya, supaya tidak bosan."&lt;br /&gt;Ifat mengangguk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa menit Ifat tenggelam dalam bacaannya, sebuah buku tentang pangeran kecil, tapi tak lama kemudian ia mulai bosan berdiam diri. Apalagi suasana sepi sekali, sampai-sampai suara jam berdetik pun terdengar jelas, dan suara pulpen ayah menari-nari di atas kertas pun kedengaran jelas sekali. Ifat meletakkan buku dan melihat ke meja tempat ayah menulis. Ada setumpuk buku di sana, dan di antaranya ada buku sejarah Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayah" katanya. Ayah cuma menyahut "Hmm?" tanpa berhenti menulis. "Apa ayah akan bercerita tentang Nabi Muhammad di khutbah nanti?"&lt;br /&gt;Ayah berhenti sejenak dan berpikir "Mmm.. yaa.. kira-kira begitu."&lt;br /&gt;Ifat melebarkan matanya, "Wah, asik sekali. Seperti dulu ya yah?"&lt;br /&gt;Ayah menoleh dan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, waktu Ayah belum diangkat jadi manajer di perusahaannya, setiap malam sesudah sholat Isya, Ais dan Ifat selalu duduk di mushola mendengarkan Ayah bercerita. Ayah pintar sekali  bercerita, dan ceritanya pun bermacam-macam, mulai kisah-kisah Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, kisah pahlawan, sampai kisah si kancil. Tapi sekarang ayah sering pulang malam, jadi tidak lagi sempat bercerita. Lagipula, Ais dan Ifat sudah terlalu besar untuk didongengi, dan sudah bisa membaca sendiri. &lt;br /&gt;Hmm.. padahal menyenangkan sekali lho didongengi seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah, apa ayah dulu juga seperti kami? Maksud Ifat, apa kakek juga sering bercerita seperti ayah bercerita untuk Ifat dan kakak?" &lt;br /&gt;Ayah meletakkan buku dan menoleh "Tidak juga. Kakek dulu tidak terlalu sering cerita. Beliau orang yang pendiam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ifat ingat kakek. Beliau memang tidak banyak berkata-kata. Ifat sering segan berdekat-dekat dengan kakek, karena kakek lebih sering diam. Dan orang yang selalu diam rasanya menakutkan buat Ifat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ifat menarik kursinya lebih dekat ke ayah. "Apa kakek tidak sayang ayah?"&lt;br /&gt;Ayah tersenyum. "Tentu saja sayang. Cuma cara menunjukkannya saja yang berbeda dengan ayah." Ayah melepas kacamatanya. "Kakek selalu memperhatikan ayah dan paman, bekerja keras untuk kami sampai ayah dan paman bisa selesai kuliah, dan selalu menasehati kami agar jadi anak baik. Walaupun kakek tidak banyak bicara, tapi rasa sayangnya tidak kurang besar dibanding rasa sayang ayah kepada Ifat, Adil, maupun Ais."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ifat terdiam sebentar dan memikirkan kata-kata ayah. Wah, Ifat tetap tidak bisa membayangkan Ayah jadi orang yang pendiam. Ayah sering bercerita dan bercakap-cakap dengan Ifat, Ais dan Adil. Rasanya akan sepi sekali kalau ayah jadi pendiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah kakek sayang Ifat, Ais dan Adil juga?"&lt;br /&gt;Ayah mengangguk "Tentu saja. Bahkan kakek sayaang.. sekali."&lt;br /&gt;"Seperti sayangnya nenek?"&lt;br /&gt;Ayah mengangguk "Ya, seperti sayangnya nenek."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan kakek, nenek Ifat sama sekali bukan orang pendiam. Seperti ayah, nenek jua suka cerita, atau kalau tidak bercerita, maka nenek akan sibuk menyuruh Ifat, Ais dan Adil makan ini-itu, atau mandi, atau apa saja. Pokoknya nenek tidak pernah diam. Ais dan Ifat, juga Adil dekat sekali dengan nenek. Mereka tahu betul, nenek begitu sayangnya pada cucu-cucunya, dan mereka pun sayang sekali kepada nenek. Kasihan nenek sekarang sakit, hmm... Ifat jadi ingin ketemu nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi Ifat takut sama kakek karena kakek selalu diam. Kakek tidak banyak bercanda. Kalau ditanya jawabnya cuma 'Hmm' saja. Kalau kita ribut-ribut di dekat kakek, kakek suka bilang 'Sana main jauh-jauh'. Rasanya, tidak mungkin rasa sayang kakek sebesar nenek" kata Ifat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah tersenyum lagi. "Orang yang diam bukan berarti tidak sayang."&lt;br /&gt;"Ifat ingat tidak, setiap kali ke rumah kakek dan nenek, selalu ada kelapa muda kesukaan Ifat?"&lt;br /&gt;Ifat mengangguk. Kakek selalu tahu apa yang Ifat sukai, kelapa muda di siang yang panas, lampu kecil setiap malam di kamar supaya Ifat tidak takut, daun kelapa untuk membuat ketupat dan mainan. Bahkan kakek juga yang mengajari Ifat membuat ketupat, membuat seruling dari daun, dan kereta dari kulit jeruk bali. Kakek pandai sekali membuat mainan, dan suka mengajari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan ketika Ais sakit, kakek malam-malam keluar rumah memanggil dokter?"&lt;br /&gt;Ifat mengangguk lagi. Waktu itu Ais sakit demam tinggi, dan hari sudah malam benar. Apalagi di tempat kakek, malam rasanya datang lebih cepat dan pergi lebih lambat. Jalanan pun sepi sekali, tidak seperti di Jakarta. Kakek khawatir sekali, dan segera pergi memanggil dokter, padahal hari hujan dan kakek cuma bersepeda. Kakek memang baiii..k sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Atau ketika tiba-tiba kakek datang sendiri ke rumah kita dan membawa banyak oleh-oleh untuk Ais dan Ifat?" lanjut ayah. &lt;br /&gt;Ifat mengangguk.&lt;br /&gt;"Itu karena kakek benar-benar rindu, dan orang yang tidak sayang, tidak mungkin akan rindu." kata ayah. &lt;br /&gt;Ifat terdiam dan berpikir, benar juga kata ayah. Kakek memang baik sekali. Dan kakek benar-benar sayang mereka. &lt;br /&gt;Tiba-tiba Ifat jadi rindu kakek, rinduu.. sekali. &lt;br /&gt;Dan kata ayah tadi, orang yang rindu tandanya sayang, berarti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayah" katanya kemudian "Rasanya Ifat juga sayaanng.. sekali sama kakek."&lt;br /&gt;Ayah tersenyum dan mengusap rambut Ifat.&lt;br /&gt;"Bagaimana kalau akhir pekan ini kita bertiga ke rumah kakek, menengok kakek dan nenek, sekaligus menjemput ibu? Ibu menelepon ayah pagi tadi. Kata ibu, nenek sudah sehat, dan ibu kangen Ifat sama Ais." Ifat hampir meloncat karena gembira.&lt;br /&gt;"Betul ?" tanyanya tak percaya. Ayah mengangguk.&lt;br /&gt;"Terimakasih ayah!" Ifat melompat dan memeluk ayahnya "Ifat sayang ayah juga" bisiknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6603010-107897296498757067?l=menjangkaumatahari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/feeds/107897296498757067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6603010&amp;postID=107897296498757067' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/107897296498757067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6603010/posts/default/107897296498757067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjangkaumatahari.blogspot.com/2004/03/kakek-sayang.html' title='Kakek sayang'/><author><name>urfie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15483279584038263094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://img.photobucket.com/albums/v46/urfie/gambar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
