Monday, April 12, 2004

Timeout!! timeout!!

Waktunya berhenti sejenak.

Barangkali saya memang belum terlalu siap melakukan perjalanan, tapi hati saya sudah tidak sabar menunggu. Perbekalan belum lengkap, tenaga belum terkumpul, tapi saya sudah berangkat.

Ke mana? Ya.. seperti yang saya tulis di ujung kanan atas
(ralat:sekarang di kiri) itu, perjalanan menjangkau matahari.

Akhirnya, setiap setengah perjalanan, saya terpaksa kembali lagi, mengambil tambahan bekal dan mengulang dari awal.

Awal? Hmm.. apa iya setiap awal cerita selalu jadi awal perjalanan?
Rasanya saya tidak perlu se-pesimis itu ya, barangkali saja setiap cerita yang berhenti di tengah itu tetap langkah maju buat saya (atau langkah naik? kan ke arah matahari :) ). Entahlah, yang jelas saya jadi tahu.. perlu ide untuk memulai sebuah cerita, tapi perlu ketekunan untuk menjalin kisah dan menyelesaikannya sampai ke akhir. Mungkin bekal itu yang harus saya tambahkan ke dalam daftar bawaan saya.

Hmm.. rasanya sudah cukup saya beristirahat, waktunya melanjutkan perjalanan kembali. Mudah-mudahan kali ini saya bisa menemukan perbekalan yang masih kurang itu. Doakan saya ya..

Pendekar kesiangan

Jam dinding menunjuk pukul setengah lima, waktunya Mamat mengerjakan tugas rutin, yaitu menyiram tanaman. Kalau sampai lupa, bisa-bisa tanaman kesayangan Emak layu semua, dan ia bakal kebagian satu dua teguran keras dari Emak. Mamat asik menyiram tanaman sambil bersenandung, lagunya entah apa. Tiba-tiba dari perempatan jalan muncul segerombolan anak laki-laki seusianya, berjalan tergesa-gesa sambil sesekali melontarkan kata-kata bernada marah.

"Eh, ntu Si Mamat!" kata salah seorang yang kaosnya kegedean.
"Ho oh, ajak aja sekalian!" anak lain, yang kepalanya botak, menimpali.
Marzuki, atau lebih sering dipanggil Juki, anak yang kaosnya kegedean tadi, mendekat ke pagar rumah Mamat.
"Oi, ikutan yuk Mat!"
Mamat meletakkan selang yang dipegangnya dan mendekat juga. "Assalamu'alaikum", katanya.
"'Alaikumussalam. Udah Mat, ayo kita buruan cabut!" kata Juki tak sabar.
Mamat mengangkat alis, cabut? emangnya rumput?
"Bentar.. bentar.. ikutan kemana nih?" tanyanya bingung.
Si botak makin tak sabar "Ki, lu bujuk Mamat dah, aye ama anak-anak jalan dulu, aye kaga mau anak RW 12 ntar ngatain kita penakut. Kalian bedua nyusul buruan ye."
Marzuki mengangguk "Oke bos!"
Rombongan yang dipimpin si botak segera melanjutkan perjalanan dan hilang dari pandangan setelah berbelok di ujung gang.

Sementara itu, Mamat masih bingung juga, "Ki, ngikut apaan?"
"Ngikut kita-kita lah" jawab Juki.
Mamat geleng-geleng kepala "Lah iya.. tapi kemana? Ngapain?"
"Yeh.. elu emang kurang gaul Mat. Pan kite mo pada ngadepin anak2 RW 12. Kite-kite bakalan butuh banyak tenaga nih.." Juki menjelaskan buru-buru.
"Ngadepin? Ngadepin maen bola? Ayok.. sape takut?" Mamat segera menyambut ajakan Juki. Juki malah mengerutkan kening.
"Bukan ntu Mat, kita bukannya mo ngadu bola, ini masalahnya serius banget. Kita mo berantem! Perang!" katanya berapi-api.
Mamat langsung kaget. Perang? Emangnya Belanda mo ngejajah Indonesia lagi?
"Gini Mat, kemaren si Ucup, temen kita tu, dipalakin ama anak RW 12. Pan namenye nantangin ntu? Nah, sekarang ni kita bakalan ngejawab ntu tantangan.. Mangkenye lo musti ngikut Mat, bantuin kita!" Juki menjelaskan panjang lebar. Satu tangannya memainkan ujung kaosnya yang kegedean, sesekali matanya memandang ke ujung gang tempat si Botak dan teman-temannya berbelok tadi, ia mulai gelisah.
Mamat bimbang, "Wah, pegimana yak... itu kan namanya tawuran Ki. Kata Wak Haji dosa, kaga boleh.." katanya ragu.

"Yah... elu Mat! Ntu namenye elu kaga setia kawan. Elu musti ikutan Mat, masa kaga mau sih ngebantuin sodara-sodara sendiri. Pan kata Wak Haji nolong sodara juga musti, kudu, wajib..."
Mamat jadi tambah ragu. Iya juga sih.. mereka pan sodara-sodara aye, pikir Mamat. Tapi tawuran? Kata Wak Haji, berkelahi itu dosa, tapi menolong sodara kan juga harus... jadi gimana dong?
"Ayo Mat! Mikirnya jangan kelamaan, ntar sodara-sodara kita keburu pada keok!"
Akhirnya dengan berat hati Mamat mengangguk "Bentaran, aye gulung selang dulu."
Sambil menggulung selang, Mamat menguatkan hati, dan berusaha meyakinkan diri bahwa niatnya baik, menolong saudara-saudaranya.

Sampai di TKP (tempat kejadian perkara, alias lapangan tempat tawuran) suasana sudah panas, perkelahian sudah berlangsung. Batu-batu beterbangan, diikuti teriakan bersahut-sahutan dari dua pihak. Awalnya nadanya penuh kemarahan "Serang!" "Timpuk!" "Rasain!"
Tapi kemudian banyak juga teriakan kesakitan. "Wadaoo! Kepala gue!"
"Aww.. kaki.. kaki gue!!"

Mamat tertegun sejenak. Diantara 'lawan' dari RW 12 dilihatnya beberapa wajah yang tidak asing baginya : Agus, Budi, teman sekelas di SD-nya dulu, dan beberapa anak lain yang Mamat lupa namanya tapi ingat benar wajahnya. Aduuhhh.. mereka kan sodara juga, masa ia harus melempar batu ke arah mereka? Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba seseorang mendorong punggungnya dengan kasar "Heh! Elu anak RW 5 ye!" Dan sebelum Mamat sempat menoleh, tiba-tiba... PLTAK!!
Sebongkah batu melayang ke arahnya, dan sahabat kita ini pun roboh ke tanah.

***

Ruangan kelas 2B SMP Suka Pandai, keesokan paginya.
Bel masuk baru berbunyi tapi suasana kelas masih riuh, beberapa anak asik main lempar-lemparan potongan kertas, beberapa yang lain main adu panco, ada juga yang terkantuk-kantuk di pojok kelas sambil meneruskan mimpinya semalam, ada yang main catur jawa, ada yang ramai mengobrol, ada yang sibuk menyalin pe er, ada yang mencuci baju, eh.. enggak ding.

Semua murid kelas 2B sudah datang, eh.. tapi tunggu, ternyata ada satu bangku yang masih kosong, yaitu bangku kedua dari depan, barisan paling kiri. Muhammad Syaifuddin, biasa dipanggil Udin, yang duduk di sebelahnya terlihat gelisah. Sesekali ia melihat jam tangannya dan memandang ke arah pintu.

"Oi, melamun aja!", Irfan yang duduk di belakangnya melempar segulung kertas ke arah Udin.
"Kaga Fan. Kenape ye, tumben amat si Mamat belon dateng. Biasanya pan die paling rajin." kata Udin sambil menoleh.
"Hmm.. bener juga ya." Irfan manggut-manggut "Jangan-jangan bangunnya telat lagi. Soalnya kan Mamat sering gantiin ayahnya tugas ronda."
Udin mengerutkan kening, "Tapi biarpun ngeronda, kaga pernah tuh si Mamat telat. Biasanye pan die justru dateng pagi banget, trus tidur lagi dah di kelas."
Irfah manggut-manggut lagi kayak petugas kelurahan yang sedang mendengarkan wejangan Pak Lurah. Ia juga bertanya-tanya dalam hati.

"Perhatian, anak-anak!" Pak Husin, guru matematika, sudah berdiri di depan kelas sambil membawa setumpuk kertas. Kelas yang tadinya riuh tiba-tiba sunyi, anak-anak segera menghentikan aktifitasnya dan duduk tenang di meja masing-masing.
"Selamat pagi anak-anak!"
"Pagi Paaak!!" anak-anak serempak menyahut.
"Hari ini Bapak akan berikan test sedikit."
Segera terdengar teriakan kompak 'Yaaa... ' dan gerutuan-gerutuan panik dari murid-murid 'Aduuh.. kan belom belajar Pak!'


(bersambung juga... *duh*)

Friday, April 02, 2004

Teman Baru Farah

Hari ini ada anak baru di kelas Farah, ia baru pindah dari Semarang, namanya Asti.
Karena jumlah murid di kelas 2 sebelumnya sudah 20, Asti terpaksa duduk sendiri. Dia duduk di depan Syifa dan Farah. Asti adalah anak perempuan yang cantik, tubuhnya kecil, rambutnya keriting dan matanya besar. Ia juga pemalu. Setelah memperkenalkan diri di depan kelas dengan suara pelan dan pipi yang memerah karena malu, ia duduk diam-diam di bangkunya. Farah merasa iba dan ingin bercakap-cakap dengannya, serta mengajaknya bermain, tapi keinginannya terpaksa ditunda dulu sampai nanti siang. Sebenarnya satu jam pelajaran lagi istirahat sih, tapi ia dan Syifa kan sudah punya rencana untuk mereka berdua saja.

"Fa, nanti kita ajak Asti pulang sekolah bareng yuk! Kan rumahnya searah sama kita."
bisik Farah kepada sahabatnya. Syifa mengangguk "Ide bagus" katanya sambil mengacungkan ibu jari, meniru adegan di film-film. Mereka berdua nyengir.

Pelajaran matematika selesai, dan bel istirahat berbunyi nyaring. Anak-anak berhamburan keluar kelas, dan bergabung dengan sahabat-sahabat mereka. Asti duduk sendiri di kelas sambil membuka bekalnya. Syifa menggamit lengan Farah "Yuk, kita temani Asti."
"Tapi kan kita.. " Farah tidak meneruskan kata-katanya. Rencananya kan jam istirahat ini mereka akan saling menunjukkan koleksi daun kering mereka, hanya berdua saja. Tapi Farah juga merasa iba pada Asti yang sendirian. Pasti tidak enak sekali jadi anak baru dan malu seperti Asti.

"Asti, main sama kami yuk!" kata Syifa.
Farah mengangguk setengah hati "Iya Asti, yuk kita main."
Asti tampak gembira, dan segera menyambut ajakan mereka berdua. "Kalian baik sekali."
Farah agak malu mendengarnya, soalnya kan sebenarnya dia agak segan.
"Kami mau tunjukkan koleksi daun kami. Kamu boleh ikut melihat kalau kamu mau." kata Syifa sambil menggandeng tangan Asti.
Hati Farah terasa sakit. Kok Syifa tega membagi rahasia mereka berdua dengan orang lain tanpa bertanya dulu pada Farah.

"Nah, Asti, ini koleksiku." Syifa membuka amplop yang dibawanya dan meletakkan isinya satu persatu di meja. Asti kelihatan kagum. "Kakakku juga punya yang seperti ini.", katanya dengan suara kecil.
Farah hampir melotot sebal, tapi untunglah Asti cepat-cepat menambahkan "Tapi nggak sebagus punya kalian kok."

Mereka berdua, Syifa dan Farah, memang sudah mengerjakan itu semua dengan hati-hati selama beberapa minggu. Mereka ingin mempunyai koleksi daun yang terlengkap sedunia. Memilih dengan hati hati daun yang berbentuk bagus, menyelipkannya di antara kertas koran, dan meletakkan pemberat di atasnya. Tumpukan kertas itu tidak boleh sering-sering dibuka sampai paling tidak satu minggu. Rasanya itu adalah satu minggu yang lamaa.. sekali buat mereka. Syifa dan Farah sudah tidak sabar ingin mengumpulkan koleksi mereka dan menyusunnya dengan rapi. Mereka merasa, ini adalah sebuah koleksi rahasia yang hebat sekali.

Farah benar-benar tidak rela rahasia mereka berdua dibagi dengan orang lain. Apa dong artinya rahasia kalau orang lain tahu juga, pikirnya. Ia ingin menjauh saja dari mereka berdua. Kalau Syifa memang lebih memilih Asti, ya sudah, pikir Farah.
Farah membuka tasnya dengan enggan. Tiba-tiba dia benci sekali dengan koleksi daunnya. Koleksi itu jadi terasa bodoh dan ia ingin membuangnya jauh-jauh.

"Syifa, aku mau ke kamar kecil dulu ya." kata Farah memberi alasan.
Syifa seperti terkejut, tapi cuma sebentar "Iya deh, jangan lama-lama ya, Asti kan belum lihat daun yang Farah buat."
Farah tidak menjawab, tapi segera berbalik dan setengah berlari menuju toilet.

Di koridor, hampir saja Farah menabrak Pak Imam, wakil kepala sekolah.
"Ehm, ehm!" Pak Imam berdehem.
Farah mengerem langkahnya dan menunduk malu. Ia tahu betul, murid-murid memang dilarang berlari di koridor, sebab koridor kan memang bukan tempat yang aman untuk berlarian. Bisa saja kan mereka anti menabrak Guru yang membawa setumpuk buku, atau terpeleset karena lantai yang licin?
Seperti Farah sekarang ini, hampir saja menjatuhkan tumpukan buku yang dibawa Pak Guru.
"Maaf pak, saya mau ke kamar mandi." katanya merasa bersalah.
Pak Imam pura-pura terkejut, "Wah, kalau begitu bergegaslah. Tapi ingat", katanya sambil mengangkat telunjuk dan memasang muka serius. Farah mengangguk "Jangan berlari." katanya meneruskan ucapan pak Imam. Pak Imam mengangguk juga dan tersenyum.

Farah berjalan cepat, tapi kemudian memperlambat langkahnya. Dia kan tidak benar-benar ingin ke belakang tadi. Dia cuma ingin sendirian saja sebentar. Ia tidak bisa memahami perasaannya sendiri. Tadinya kan dia yang mengajak Syifa untuk menemani Asti sepulang sekolah, tapi kenapa sekarang ia justru merasa sakit ketika Syifa mengajak Asti bermain? Farah masih terbayang Asti dan Syifa yang kelihatannya asik sekali tadi, sampai-sampai ia merasa dilupakan.

Syifa menyebalkan sekali, mestinya kan rahasia itu untuk mereka saja. Dan Asti itu.. uu..uh, siapa yang tahu kalau kakaknya benar-benar punya koleksi daun seperti mereka? Kan bisa saja dia cuma mengarang-ngarang supaya Syifa juga kagum, batin Farah. Lalu sebuah pikiran yang menakutkan terlintas di kepala Farah.
Bagaimana kalau nanti Syifa jadi lebih suka kepada Asti, dan melupakan Farah? Farah tidak bisa membayangkan harus duduk sendiri di kelas, sementara Asti dan Syifa asik main berdua. Dadanya terasa menyesak, ia jadi ingin menangis.

(.. bersambung ah..)